INTISARI
Praktikum Perkenalan Peralatan Yang Digunakan Dalam Laboratorium sangat penting untuk memudahkan praktikan mempelajari apa saja peralatan yang biasa digunakan, bagaimana fungsi dan cara kerjanya sehingga nantinya praktikum dapat berjalan secara lancar.
Peralatan yang biasa digunakan dalam laboratorium terdiri dari peralatan utama dan peralatan penunjang. Peralatan utama merupakan peralatan yang wajib ada karena tanpa peralatan ini praktikum tidak dapat dilakukan terutama pada praktikum mikrobiologi yang harus mengamati dan membiakkan sel-sel berukuran sangat kecil. Selain peralatan utama, peralatan penunjang juga penting untuk disediakan. Peralatan penunjang ini dapat meningkatkan keakuratan percobaan sehingga meminimalisir tejadinya kegagalan.
Peralatan-peralatan yang termasuk ke dalam peralatan utama diantaranya adalah:
- Mikroskop
Alat ini sudah jelas sangat diperlukan untuk mengamati sel-sel yang berukuran sangat kecil. Pengamatan dilakukan untuk melihat morfologi sel, motilitas sel sehingga dita dapat mengidentifikasi sel tersebut.
- Sterilisator
Alat ini berguna untuk mensterilkan peralatan yang digunakan untuk praktikum sehingga meminimalisir terjadinya kontaminasi.
- Inkubator
Alat ini digunakan untuk membiakkan mikroorganisme yang digunakan dalam percobaan.
- Sentrifugator
Peralatan-peralatan yang termasuk ke dalam peralatan penujang diantaranya:
- Pipet
- Laboratory Balances
- pH meter
- Refrigerator dan Freezers
- Temperatur kontrol
Penjelasan dari masing-masing peralatan di atas dapat dilihat pada bagian pembahasan dari laporan ini. Dengan mengetahui prinsip dan fungsi dari peralatan tersebut diharapkan praktikan mampu memahami dan mengaplikasikannya pada praktikum selanjutnya.
PENDAHULUAN
Dalam suatu penelitian, hal yang sangat menunjang keberhasilan penelitian tersebut adalah pemilihan peralatan laboratorium yang tepat. Untuk itu kita perlu mengetahui alat-alat apa saja yang biasa digunakan, bagaimana cara mengoperasikannya, dan tentunya fungsi dari alat-alat tersebut. Berikut akan dijelaskan peralatan apa saja yang biasa digunakan di dalam laboratorium. Literatur yang digunakan diambil dari jurnal-jurnal dan text book tentang study instrument yang biasa digunakan dalam laboratorium.
Peralatan laboratorium secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yakni peralatan utama dan peralatan penunjang.
METODE PRAKTIKUM
Pada praktikum perkenalan peralatan laboratorium, metode praktikum yang digunakan adalah metode pengamatan dan studi kepustakaan.
HASIL PENGAMATAN
Dari sekian banyak penjelasan peralatan yang digunakan di dalam laboratorium, pada laporan ini hanya akan dibahas 10 jenis peralatan, diantaranya 5 peralatan utama dan 5 peralatan penunjang. Peralatan besar/utama diantaranya : Mikroskop, Sterilisator (Autoklaf dan Laminar Airflow Hoods), Inkubator, dan Sentrifugator. Sedangkan untuk peralatan penunjang diantaranya : Pipet, Laboratory Balances, pH meter, Referigerator dan Freezers, dan Temperatur Kontrol. Selain yang disebutkan diatas, masih banyak lagi peralatan-peralatan laboratorium lainnya yang juga berperan penting dalam suatu penelitian.
PEMBAHASAN
Peralatan laboratorium secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu:
Peralatan Utama
- 1. Mikroskop
Mikroorganisme dan komponen strukturalnya memiliki ukuran yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan menggunakan penglihatan normal. Untuk melihat mikroorganisme tersebut, kita membutuhkan mikroskop. Mikroskop pertama kali dibuat oleh Leeuwenhoek sekitar abad ke 7, mikroskop tersebut bentuknya masih sangat sederhana. Robert Hooke adalah orang pertama yang melihat sel. Seiring waktu berjalan dan ilmu pengetahuan semakin meningkat, maka design mikroskop pun semakin lama semakin canggih.
Mikroskop dapat debedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya:
Mikroskop Cahaya
Pada prinsipnya, mikroskop ini meggunakan cahaya untuk melihat spesimen, memiliki dua buah lensa yaitu Lensa Obyektif (lensa yang dekat dengan spesimen) dan Lensa Okuler (lensa yang dekat dengan mata). Mikroskop cahaya bisa dikelompokkan kembali menjadai beberapa jenis, yakni:
Mikroskop Medan Terang
Mikroskop Medan Gelap
Mikroskop Fase Kontras
Mikroskop Fluoresensi
Mikroskop Konfokal
Berdasarkan Tortora (2001), prinsip kerja dari mikroskop ini mirip seperti pada mikroskop fluorosensi. Pertama, spesimen diwarnai dengan fluorochrome supaya mereka memantulkan cahaya. Mikroskop ini meggunakan penerangan berupa sinar laser dan dapat dihubungkan dengan komputer sehingga mampu menghasilkan gambar tiga dimensi. Menurut Jurnal Advances in Dental Research (1997) oleh Duchner dikatakan bahwa mikroskop konfokal perlahan sudah mulai digunakan dalam penelitian di Kedokteran Gigi. Biasanya digunakan untuk mempelajari struktur enamel dan dentin.
Mikroskop Elektron, dibagi menjadi:
Transmission Electron Microscopy
Scanning Electron Microscopy
Scanned Probe Microscopy
- 1. Sterilisator
Laboratorium adalah tempat untuk melakukan penelitian, pembiakkan, dan percobaan terhadap suatu bahan/material yang terkadang belum diketahui resiko bahaya atau tidak terhadap tubuh (misalnya bekerja dengan virus). Oleh karena itu, bekerja di dalam laboratorium haruslah secara steril agar tidak terjadi infeksi silang yang bisa membahayakan bagi operator, praktikan, peneliti, dan orang-orang yang bekerja di laboratorium tersebut. Untuk itu dalam laboratorium penting untuk menyediakan sterilisator, yakni alat yang digunakan untuk mensterilkan peralatan-peralatan laboratorium. Berikut merupakan beberapa contoh peralatan yang termasuk sterilisator.
Autoklaf
Menurut Estridge (2000), Autoklaf merupakan suatu alat yang menggunakan uap panas untuk mensterilkan peralatan-peralatan bedah, peralatan laboratorium yang digunakan dalam Mikrobiologi. Suhu yang digunakan dalam autoklaf adalah 121oC dengan waktu antara 15 – 20 menit psi (pounds per square). Uap panas dialirkan ke dalam ruangan (chamber) autoklaf. Pada saat suhu dan tekanan mencapai kondisi optimum, timer otomatis mulai berjalan. Setelah proses selesai, suhu dan tekanan akan turun secara otomatis, dan autoklaf dapat dibuka saat tekanan mencapai angka nol (0) psi.
Dalam Abstrak Journal of Microbiological Methods yang ditulis oleh Keith E. Simmon (2003) dikatakan bahwa dengan menggunakan autoklaf pada percobaan terhadap DNA dengan metode PCR dapat meningkatkan efektifitas terutama dari segi biaya dan waktu. Bakteri akan lisis oleh uap panas dalam autoklaf.
Laminar Airflow Hoods
Laminar Airflow Hoods digunakan untuk menjaga agar sel biakan (sampel) tetap berada dalam keadaan steril. Alat ini sangat penting dalam menunjang pembiakan sel, misalnya pada teknik ELISA. Besar kecilnya Laminar Hoods tergantung kepada jenis sel yang hendak diamati. Jika melihat sel DNA cukup menggunakan Laminar Hoods yang kecil saja. Laminar Hoods yang baik harus memiliki lampu sinar UV, lampu ini dinyalakan setelah operator keluar ruangan. Sinar UV inilah yang akan menjaga sterilitas dari bahan/materi yang telah disterilkan dengan autoklaf.
Menurut Wiedbrauk (1993), Laminar Airflow Hoods dibedakan menjadi dua jenis yaitu Kabinet Kelas I dan Kabinet Kelas II. Kabinet Kelas II lebih unggul dalam menjaga sterilitas dari spesimen yang akan digunakan.
- 1. Inkubator
Inkubator merupakan salah satu peralatan yang penting dalam laboratorium. Menurut Wiedbrauk (1993), Inkubator yang sering digunakan terdiri dari dua tipe, yakni Inkubator yang menggunakan CO2 dan Ambient Air Incubators. CO2 inkubator digunakan pada kultur media buffer-bikarbonat. Menggunakan tekanan atmosfir sebesar 5% CO2 dengan pH optium antara 7,2 – 7,4 dalam suhu 35 – 37oC.
- 2. Sentrifugator
Sentrifugator adalah alat yang berfungsi untuk memutar sampel dengan kecepatan tinggi. Biasanya digunakan untuk memisahkan komponen seluler dalam darah (serum dan plasma), sehingga siap digunakan untuk keperluan penelitian.
Sentrifugator dapat dibedakan berdasarkan ukuran, kapasitas, dan kecepatan. Clinical centrifuge digunakan untuk separasi serum dan urinalisa. Kecepatan yang digunakan berkisar antara 0 – 3.000 rpm, dengan ukuran tabung antara 5 – 50 ml. Serofuge merupakan sentrifugator kecil yang digunakan untuk blood banking dan memutar pipa serologi. Berkapasitas 2 – 3 ml. Microcentrifuges juga sering digunakan terutama untuk mendapatkan sampel hematokrit. Memiliki kecepatan putaran antara 12.000 – 14.000 rpm dengan kapasitas tabung 0,5 – 1,5 ml.
Jika kita hanya akan memutar satu sampel maka diperlukan pengimbang yang diletakkan berlawanan dengan sampel. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari terpelantingnya sampel dari rotor. Selain itu kecepatan putar sentrifugator harus di cek setiap bulan secara teratur untuk menjaga keefektifitasan alat tersebut. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan dalam text book Estridge (2000).
Peralatan Penunjang
- 1. Pipets
Pipet merupakan salah satu alat penunjang yang harus ada dalam laboratorium. Saat ini banyak laboratorium sudah menggunakan pipet otomatis yang ukurannya sudah diset sehingga lebih mudah untuk digunakan.
- 1. Laboratory Balances
Alat ini digunakan terutama untuk menyeimbangkan volume yang biasa digunakan dalam gelas ukur sehingga kedudukannya sejajar/lurus supaya tidak terjadi ketidakakuratan besar volume yang diakibatkan karena kedudukan yang miring/tidak seimbang.
- 2. pH meter
Dalam melakukan prosedur laboratorium, biasanya reagen yang digunakan mempunyai pH tertentu. Untuk mengukur pH yang sesuai diperlukan suatu alat yang disebut dengan pH meter. Seperti yang dijelaskan dalam Estridge (2002), pH meter digunakan untuk mengukur pH reagen yang akan digunakan untuk persiapan penelitian. Derajat pH berkisar antara 0 – 14 dan pH netral bernilai 7,0. Dibawah 7,0 disebut larutan asam, sedangkan diatas 7,0 disebut larutan basa (alkali).
- 3. Refrigerator dan Freezer
Berdasarkan Wiedbrauk (1993)Alat ini dibutuhkan dalam laboratorium karena media dan reagen biasanya harus didinginkan. Namun refrigerator tidak direkomendasikan untuk menyimpan spesimen yang hidup dalam keadaan dibawah min 0oC karena refrigerator temperaturnya hanya berkisar antara 2 – 8oC. Untuk menanggulangi hal tersebut maka dibutuhkan freezers, karena alat ini mempunyai temperatur sampai -40oC.
- 4. Temperatur Kontrol
Kebanyakan prosedur dan reagen yang biasa digunakan dalam suatu laboratorium harus disetting dalam temperatur tertentu. Untuk itu setiap peralatan yang membutuhkan setting temperatur harus memiliki temperatur kontrol. Fungsinya untuk mengatur berapa besar temperatur optimum yang dapat digunakan dalam prosedur pelaksanaan praktikum maupun penelitian. Sehingga hasilnya akan lebih akurat.
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sebelum melakukan suatu percobaan, kita perlu mengetahui alat-alat apa saja yang akan digunakan, bagaimana prinsip kerja dan fungsinya sehingga meminimalisir terjadinya kesalahan-kesalahan yang dapat menyebabkan kegagalan percobaan. Selain peralatan utama, peralatan penunjang seperti pH meter, pipet, laboratory balances, temperatur kontrol, dan lainnya juga harus disediakan sehingga meningkatkan keakuratan dalam melakukan suatu percobaan.
DAFTAR PUSTAKA
Duschner, Heinz. 1997. Fact and Artefact in Confocal Microscopy. Journal of Advances in Dental Research, volume 11 number 4. Hal: 433-441. London.
Estridge, Barbara H, et all. 2000. Basic Medical Laboratory Techniques, 4th Edition. USA: Thomson Learning.
Simmon, Keith E. 2003. Abstract: Autoclave Method for RapidPreparation of BacterialPCR-template DNA. Jornal of Microbiological Methods. Hal 143-149. USA
Tortora, Gerard J. 2001. Microbiology: An Introduction. USA: Addison Wesley Longman Inc.
Wiedbrauk, Danny L. 1993. Manual Clinical Virologi. USA: Raven Press.




mak jaaang!!!
ngopo nduk ? wkwkwkwk